Sebuah Harapan
Ada seorang anak yang sangat bodoh di kelasnya, dia pernah mencapai
peringkat 20 di dalam kelasnya dari 32 orang anak. Anak ini sangat pendiam di
kelasnya. Sangat tertutup dengan temannya dan dia tidak suka kalau diganggu
dengan temannya, dia sangat penyabar seperti ibunya. Dengan tubuhnya yang
kecil, pendek, kurus dan hitam dia merasa nyaman dengan dirinya karena dia
beranggapan bahwa orang yang kurus bisa berlari dengan cepat tidak seperti
kawan-kawannya yang lain. Dia adalah Tasya Kamelia Putri. Walau dia bodoh
tetapi dia mempunyai sahabat yang sangat baik. Mereka Ada yang berkarakter
tomboy, yang suka dandan, kutu buku dan pinternya selangit.
“Bu, Tasya udah dapet formulir Gontor loh, besok Tasya mau kesana yaa sama temen Tasya.” Kata Tasya. Sahut Ibu dengan wajah yang sangat bercahaya “Coba kamu Tanya ayah dulu sana!” Sambil menggerutu dalam hatinya Tasya pun menghampiri Ayahnya yang sedang menonton tv di ruang santai sambil berkata “Yah, kan kata Ayah kemaren, Tasya boleh mondok, Tasya besok mau kesana ya sama temen Tasya naik mobilnya dia. Cuma mau liat doang kok kaya gimana pesantrennya.” Dengan tegas sang Ayah pun berkata “Ayah ga setuju kalau kamu mondok disana. Pesantren itu kan jauh, nanti kalau kamu sakit terus kenapa-kenapa siapa yang mau urusin? Nanti kalau Ibu sakit juga siapa yang urusin? Nanti kalau Ayah sama Ibu kangen, gimana?” dengan sangat kecewa Dia berkata “ loh kok Ayah gitu sih, kan kemaren Ayah udah bilang boleh kenapa sekarang Ayah malah ngelarang?” “Pokoknya kalau Ayah bilang ga boleh, ya ga boleh. Disini juga banyak sekolah yang bagus.” Kata sang Ayah.
Matahari pun kembali menyinari, namun Tasya masih dalam dekapan selimutnya. Namun setelah handphonenya bergetar beberapa kali, Tasya pun terbangun dan mengangkat telephone tersebut yang merupakan telephone dari teman terdekatnya, Muhammad.
Muhammad : “Sya, anak-anak pada ngajakin ngumpul di sekolah, lo dateng ga?” (dengan
suara yang keras).
Tasya : “kapan?” (dengan samar-samar dan menunjukkan ciri khas orang yang baru bangun tidur).
Muhammad : “abis bangun tidur ya Sya? Nanti jam 10.”
Tasya : “hah? Jam 10?” (sambil melihat jam dan mengatakan) “gilaaaaa, setengah jam lagi. Tasya belum mandi.”
(setelah mandi, berpakaian rapi dan merasa badannya telah wangi
dia pun bergegas menuju sekolah tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya
karena merasa masih sebal dengan mereka. Sesampainya di sekolah, dia pun
menceritakan semua kejadian kemarin sore kepada teman-teman terdekatnya).
Setelah beberapa hari kejadian yang menyebalkan itu berlangsung, Dia pun segera mendaftar ke Sekolah Menengah Kejuruan ternama di Jakarta, dengan melalui beberapa tahapan penyeleksian yang melelahkan, tanpa disadari dia pun lulus test tersebut dan dinyatakan berhak untuk bersekolah di sekolah tersebut setelah melengkapi berkas-berkas yang lain. Namun… setelah dia mengadukan peristiwa tersebut kepada kepada kedua orang tuanya, hasilnya pun nihil.
“Bu, tau ga?” sambil mencium Ibunya dan dengan wajah yang amat ceria Tasya pun berkata. “tau apa? Kamu ceria banget hari ini” Ibunya pun berkata sambil memotong wortel di dapur. “iya donggg, hehe. Tasya keterima lohh di SMK ternama itu. Terus besok disuruh balik lagi sekalian lengkapin persyaratan Tasya yang kurang.” Dengan amat ceria “syukurlah. Emang apa persayaratannya yang kurang?” Sambil memasukkan bahan-bahan yang ingin dimasak Ibunya ke dalam panci yang airnya telah mendidih. Tasya pun berkata sambil meminum teh hangat ”lumayan banyak sih bu.” Sambil menunjukkan map biru yang didalamnya ada berkas-berkasnya kepada Ibunya. “coba kamu tanya sama Ayah sanah.” Kata Ibunya. Dengan ekspresi ketakutan Tasya berkata “ta…taa..piii…tapi Tasya takut pasti Ayah engga izinin lagi kaya kemaren.” Ibu pun menjawab sambil mendekati Tasya yang sedang duduk di ruang makan “Tasya belum coba kok udah takut aja. Tasya ngomongnya baik-baik sama Ayah, kalau Tasya ngomong baik-baik sama Ayah, Ayah pasti mau kok kalau Tasya sekolah disana.” “iya deh bu.” Dengan muka ketakutan Tasya pun menghampiri Ayahnya yang sedang membaca koran di teras depan, Tasya pun berkata “Yah, Tasya keterima loh di SMK ternama itu, Tasya boleh kan sekolah disana? Ini berkas yang belum Tasya lengkapin yah, terus Tasya besok harus balik lagi kesana bawa persyaratannya yang lengkap.” Sambil mengasih map biru yang didalamnya ada berkas-berkas Tasya kepada Ayahnya, “SMK mana nih?” dengan nada agak-agak tinggi Ayah berkata. Tasya menjawab “SMKN 8 yah, itu yang di pejaten.” Ayah berkata sambil meletakkan korannya ke meja “SMKN 8? Enggak enggak, kamu kayak ga ada sekolah lain aja yang lebih bagus. Pokoknya Ayah ga setuju.” Tasya kaget dan berkata dengan nada kesel “Ayah kenapa sih, dari kemaren ga setujuin banget Tasya pilih sekolah. Kemaren ke Gontor Ayah engga izininin terus sekarang giliran Tasya keterima di sana Ayah juga engga izinin. Ayah ga pengen Tasya sekolah? Ayah jahat banget. Tasya ga usah sekolah aja sekalian kalo kemana-mana Tasya slalu ga dibolehin.” Tasya pun berlari menuju kamarnya dengan perasaan yang sangat kecewa. Sesampainya di kamar, dia pun mengunci kamarnya dan menyendiri kembali merenungi nasib malangnya kemudian bergumam “kenapa sih ga ada yang peduli banget sama Tasya? Tasya kesini gaboleh, Tasya kesitu juga engga boleh. Terus gimana Tasya bisa maju kalau kemana-mana Tasya slalu ga dibolehin? Kenapa pada ga ada yang sayang banget sih sama Tasya? Kenapa pada ga ada yang dukung Tasya sama sekali? Tasya benci… benciiiiiiiiiiiiiii banget sama keluarga ini.”
Langit pun berganti menjadi gelap gulita. Sejak kekecewaan itu hadir kembali, dia pun tak mau bertemu dengan siapa-siapa, makan pun juga tak mau. Hanya menangislah yang menjadi teman terbaiknya saat itu untuk meluapkan apa yang dia rasakan saat itu. Ibu serta teman-teman terbaiknya pun juga dihiraukan olehnya. Tak ada seorang pun yang berhasil membuatnya keluar kamar atau menyantap makanan yang dihidangkan oleh ibunya.
Hingga matahari terbit pun, Dia masih meluapkan kekecewaan tersebut dengan air mata bahkan sempat terfikir olehnya untuk pergi meninggalkan rumah tersebut, namun dia bingung harus pergi kemana sedangkan dia adalah seorang wanita yang tak baik jika harus kabur dari rumah dan dia masih sempat memikirkan ibunya. “bagaimana nasib Ibu jika aku pergi dari rumah? Mungkin Ibu akan kecewa kepadaku melihat tingkah burukku ini. Aku tidak tega melihat Ibu sedih, melihat Ibu menangis. Namun, aku juga tidak betah ada didalam keluarga ini, keluarga yang tidak pernah mendukung aku sama sekali. Lantas aku harus bagaimana?” gumam Tasya.
Hingga pada saat adzan zuhur berkumandang, sang kakak yang dia cintai pun berhasil membujuk dia untuk membukakan pintu kamarnya dengan membawa hidangan makan siang. Sambil mengotok pintu, sang kakak berkata “Tasyaa… Tasyaa… buka pintunya Sya. Ini kakak.” Tasya pun terkejut, sang kakak yang rumahnya sangat jauh dari rumah dia pun datang untuk membujuk adik tercintanya “kakak? Kok kakak bisa datang? Kok kakak bisa tau keadaan aku?” “ayoo dong Sya buka, kakak bawa makanan kesukaan kamu nih.” Bujuk sang Kakak. Tasya pun membuka pintu untuk Kakaknya tanpa menjawab apapun. Sang kakak pun masuk ke kamarnnya sambil mengatakan “kamu kenapa? Matanya sampe sembab begitu. Ayoo cerita sama kakak.” Dengan lancar Tasya pun mulai menceritakan kejadian kemarin itu kepada Kakaknya. Setelah mendengarkan kejadian tersebut, sang Kakak pun menjawab “yaudah Tasya gausah sedih gitu dong, kalo Tasya belum bisa sekolah disana, itu tandanya sekolah itu bukan yang terbaik untuk Tasya. Niat Ayah sama Ibu juga baik kok, Ayah sama Ibu juga ga mungkin jerumusin Tasya kedalam lubang. Percaya deh sama kakak, suatu saat Tasya bakal dapetin sekolah yang lebih baik kok daripada itu. Yaudah sekarang Tasya makan ya, dari kemaren Tasya belum makan kan?” Tasya pun nurut dengan kakaknya dan mencoba melupakan peristiwa itu.
Setelah mendengar nasihat kakaknya itu, Tasya pun sadar akan perbuatannya. Dan akhirnya dia masuk ke SMA swasta pilihan orang tuanya. Walaupun sekolah tersebuat merupakan pilihan orang tuanya, tetapi dia ikhlas untuk terus bersekolah di sekolah tersebut. Hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah peringkat yang lebih memuaskan dari yang sebelumnya dan lebih menjadi seorang yang kutu buku lagi terhadap sesuatu yang dia belum ketahui sebelumnya.
Walau dia anak yang pendiam di kelasnya, namun terkadang satu dua celotehan pun muncul dari mulutnya. Dan pada saat itu, dia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi yaitu menjadi seorang penerjemah, walau cita-cita itu adalah keinginan Ibunya, tetapi demi membahagiakannya dia rela untuk berjuang menjadi seorang penerjemah. Disamping itu, dia juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi.
Sejak SD dia
memang anak yang paling bodoh. Bahkan bisa dikatakan paling kuper dan gaptek. Namun
itu hanya berlangsung selama masa SD. Setelah dia tamat dari SD, dan meneruskan
ke sekolah swasta, dia berubah layaknya power rangers. Dia menjadi kutu buku
dan dia berhasil mendapatkan peringkat di kelasnya. Namun dia merasa kehilangan
sahabatnya yang kutu buku dan super jenius karena berbeda sekolah.
Setelah 3 tahun
menginjakkan masa SMP, dia merasa nyaman dengan tempatnya saat itu. Dia
mendapatkan kembali teman yang akrab sekali dengannya walau salah satunya
adalah lelaki yang hobinya nge-beat box di kelas dan bernyanyi tetapi dia
pintar sekali dengan matematika dan Bahasa Arab karena dia pindahan dari
pesantren, Muhammad namanya dan 2 orang teman perempuannya yang pintar
Berbahasa Arab dan ahli dalam pencintaan, mereka adalah Nur Amelia dan Rastika.
¤¤¤¤¤
Disaat detik-detik ujian pun, dia
merasa tenang karena dia sudah
menentukan untuk melanjutkan kemana. Tetapi setelah ujian selesai, ketika ia
ingin mendaftar ke sekolah tersebut. Ayahnya pun tak merestuinya.
“Bu, Tasya udah dapet formulir Gontor loh, besok Tasya mau kesana yaa sama temen Tasya.” Kata Tasya. Sahut Ibu dengan wajah yang sangat bercahaya “Coba kamu Tanya ayah dulu sana!” Sambil menggerutu dalam hatinya Tasya pun menghampiri Ayahnya yang sedang menonton tv di ruang santai sambil berkata “Yah, kan kata Ayah kemaren, Tasya boleh mondok, Tasya besok mau kesana ya sama temen Tasya naik mobilnya dia. Cuma mau liat doang kok kaya gimana pesantrennya.” Dengan tegas sang Ayah pun berkata “Ayah ga setuju kalau kamu mondok disana. Pesantren itu kan jauh, nanti kalau kamu sakit terus kenapa-kenapa siapa yang mau urusin? Nanti kalau Ibu sakit juga siapa yang urusin? Nanti kalau Ayah sama Ibu kangen, gimana?” dengan sangat kecewa Dia berkata “ loh kok Ayah gitu sih, kan kemaren Ayah udah bilang boleh kenapa sekarang Ayah malah ngelarang?” “Pokoknya kalau Ayah bilang ga boleh, ya ga boleh. Disini juga banyak sekolah yang bagus.” Kata sang Ayah.
Dengan sangat kecewa Tasya pun
berlari menuju kamarnya. Sambil bergumam didalam hati “kenapa sih ga ada yang
setuju kalo Tasya sekolah disana. Tasya kan Cuma mau mandiri disana. Ayah sama
Ibu gak ada yang sayang Tasya.” Setelah sampai di kamar pun, Tasya langsung
memeluk guling sambil menangis dan bergumam “Tasya juga gaminta uang Ayah sama
Ibu untuk kesana,Tasya pake uang hasil kerja keras Tasya, tapi kenapa ga ada
yang dukung Tasya? Ga adilllllll bangeeeetttt. Tasya benci Ayah Ibu.” Sambil
menahan kesal dan menangis, handphone Tasya pun bergetar.
Received Dwi : “Sya, besok gimana? Jadi kan?”
Tasya : “kayaknya
engga wii. Ayah sama Ibu ga ngizinin Tasya kesana.”
Received Dwi : ”lah kemaren katanya udah diizinin?”
Tasya : “gatau
wi, Tasya sebel sama Ayah, Padahal kemaren
Ayah udah izinin. Tapi tiba-tiba Ayah berubah pikiran terus bilang
gaboleh. Padahal Tasya uda seneng banget boleh sekolah disana.”
Received Dwi : “Sabar ya Sya.. OrangTua emang begitu.”
Tasya : “Iyaa
wii. Take care ya besok.”
Received Dwi : “okay…”
Setelah smsan dengan Dwi, ia pun
tertidur terbawa oleh suasana derasnya hujan di sore hari yang sama derasnya
dengan rasa kecewanya saat itu.
¤¤¤¤¤
Matahari pun kembali menyinari, namun Tasya masih dalam dekapan selimutnya. Namun setelah handphonenya bergetar beberapa kali, Tasya pun terbangun dan mengangkat telephone tersebut yang merupakan telephone dari teman terdekatnya, Muhammad.
Muhammad : “Sya, anak-anak pada ngajakin ngumpul di sekolah, lo dateng ga?” (dengan
suara yang keras).
Tasya : “kapan?” (dengan samar-samar dan menunjukkan ciri khas orang yang baru bangun tidur).
Muhammad : “abis bangun tidur ya Sya? Nanti jam 10.”
Tasya : “hah? Jam 10?” (sambil melihat jam dan mengatakan) “gilaaaaa, setengah jam lagi. Tasya belum mandi.”
Muhammad : “yaudah cepetan mandi makanya.”
Tasya : “iyaa iyaaa.” (Langsung bergegas ke kamar
mandi).
¤¤¤¤¤
Setelah beberapa hari kejadian yang menyebalkan itu berlangsung, Dia pun segera mendaftar ke Sekolah Menengah Kejuruan ternama di Jakarta, dengan melalui beberapa tahapan penyeleksian yang melelahkan, tanpa disadari dia pun lulus test tersebut dan dinyatakan berhak untuk bersekolah di sekolah tersebut setelah melengkapi berkas-berkas yang lain. Namun… setelah dia mengadukan peristiwa tersebut kepada kepada kedua orang tuanya, hasilnya pun nihil.
“Bu, tau ga?” sambil mencium Ibunya dan dengan wajah yang amat ceria Tasya pun berkata. “tau apa? Kamu ceria banget hari ini” Ibunya pun berkata sambil memotong wortel di dapur. “iya donggg, hehe. Tasya keterima lohh di SMK ternama itu. Terus besok disuruh balik lagi sekalian lengkapin persyaratan Tasya yang kurang.” Dengan amat ceria “syukurlah. Emang apa persayaratannya yang kurang?” Sambil memasukkan bahan-bahan yang ingin dimasak Ibunya ke dalam panci yang airnya telah mendidih. Tasya pun berkata sambil meminum teh hangat ”lumayan banyak sih bu.” Sambil menunjukkan map biru yang didalamnya ada berkas-berkasnya kepada Ibunya. “coba kamu tanya sama Ayah sanah.” Kata Ibunya. Dengan ekspresi ketakutan Tasya berkata “ta…taa..piii…tapi Tasya takut pasti Ayah engga izinin lagi kaya kemaren.” Ibu pun menjawab sambil mendekati Tasya yang sedang duduk di ruang makan “Tasya belum coba kok udah takut aja. Tasya ngomongnya baik-baik sama Ayah, kalau Tasya ngomong baik-baik sama Ayah, Ayah pasti mau kok kalau Tasya sekolah disana.” “iya deh bu.” Dengan muka ketakutan Tasya pun menghampiri Ayahnya yang sedang membaca koran di teras depan, Tasya pun berkata “Yah, Tasya keterima loh di SMK ternama itu, Tasya boleh kan sekolah disana? Ini berkas yang belum Tasya lengkapin yah, terus Tasya besok harus balik lagi kesana bawa persyaratannya yang lengkap.” Sambil mengasih map biru yang didalamnya ada berkas-berkas Tasya kepada Ayahnya, “SMK mana nih?” dengan nada agak-agak tinggi Ayah berkata. Tasya menjawab “SMKN 8 yah, itu yang di pejaten.” Ayah berkata sambil meletakkan korannya ke meja “SMKN 8? Enggak enggak, kamu kayak ga ada sekolah lain aja yang lebih bagus. Pokoknya Ayah ga setuju.” Tasya kaget dan berkata dengan nada kesel “Ayah kenapa sih, dari kemaren ga setujuin banget Tasya pilih sekolah. Kemaren ke Gontor Ayah engga izininin terus sekarang giliran Tasya keterima di sana Ayah juga engga izinin. Ayah ga pengen Tasya sekolah? Ayah jahat banget. Tasya ga usah sekolah aja sekalian kalo kemana-mana Tasya slalu ga dibolehin.” Tasya pun berlari menuju kamarnya dengan perasaan yang sangat kecewa. Sesampainya di kamar, dia pun mengunci kamarnya dan menyendiri kembali merenungi nasib malangnya kemudian bergumam “kenapa sih ga ada yang peduli banget sama Tasya? Tasya kesini gaboleh, Tasya kesitu juga engga boleh. Terus gimana Tasya bisa maju kalau kemana-mana Tasya slalu ga dibolehin? Kenapa pada ga ada yang sayang banget sih sama Tasya? Kenapa pada ga ada yang dukung Tasya sama sekali? Tasya benci… benciiiiiiiiiiiiiii banget sama keluarga ini.”
¤¤¤¤¤
Langit pun berganti menjadi gelap gulita. Sejak kekecewaan itu hadir kembali, dia pun tak mau bertemu dengan siapa-siapa, makan pun juga tak mau. Hanya menangislah yang menjadi teman terbaiknya saat itu untuk meluapkan apa yang dia rasakan saat itu. Ibu serta teman-teman terbaiknya pun juga dihiraukan olehnya. Tak ada seorang pun yang berhasil membuatnya keluar kamar atau menyantap makanan yang dihidangkan oleh ibunya.
Hingga matahari terbit pun, Dia masih meluapkan kekecewaan tersebut dengan air mata bahkan sempat terfikir olehnya untuk pergi meninggalkan rumah tersebut, namun dia bingung harus pergi kemana sedangkan dia adalah seorang wanita yang tak baik jika harus kabur dari rumah dan dia masih sempat memikirkan ibunya. “bagaimana nasib Ibu jika aku pergi dari rumah? Mungkin Ibu akan kecewa kepadaku melihat tingkah burukku ini. Aku tidak tega melihat Ibu sedih, melihat Ibu menangis. Namun, aku juga tidak betah ada didalam keluarga ini, keluarga yang tidak pernah mendukung aku sama sekali. Lantas aku harus bagaimana?” gumam Tasya.
Hingga pada saat adzan zuhur berkumandang, sang kakak yang dia cintai pun berhasil membujuk dia untuk membukakan pintu kamarnya dengan membawa hidangan makan siang. Sambil mengotok pintu, sang kakak berkata “Tasyaa… Tasyaa… buka pintunya Sya. Ini kakak.” Tasya pun terkejut, sang kakak yang rumahnya sangat jauh dari rumah dia pun datang untuk membujuk adik tercintanya “kakak? Kok kakak bisa datang? Kok kakak bisa tau keadaan aku?” “ayoo dong Sya buka, kakak bawa makanan kesukaan kamu nih.” Bujuk sang Kakak. Tasya pun membuka pintu untuk Kakaknya tanpa menjawab apapun. Sang kakak pun masuk ke kamarnnya sambil mengatakan “kamu kenapa? Matanya sampe sembab begitu. Ayoo cerita sama kakak.” Dengan lancar Tasya pun mulai menceritakan kejadian kemarin itu kepada Kakaknya. Setelah mendengarkan kejadian tersebut, sang Kakak pun menjawab “yaudah Tasya gausah sedih gitu dong, kalo Tasya belum bisa sekolah disana, itu tandanya sekolah itu bukan yang terbaik untuk Tasya. Niat Ayah sama Ibu juga baik kok, Ayah sama Ibu juga ga mungkin jerumusin Tasya kedalam lubang. Percaya deh sama kakak, suatu saat Tasya bakal dapetin sekolah yang lebih baik kok daripada itu. Yaudah sekarang Tasya makan ya, dari kemaren Tasya belum makan kan?” Tasya pun nurut dengan kakaknya dan mencoba melupakan peristiwa itu.
¤¤¤¤¤
Setelah mendengar nasihat kakaknya itu, Tasya pun sadar akan perbuatannya. Dan akhirnya dia masuk ke SMA swasta pilihan orang tuanya. Walaupun sekolah tersebuat merupakan pilihan orang tuanya, tetapi dia ikhlas untuk terus bersekolah di sekolah tersebut. Hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah peringkat yang lebih memuaskan dari yang sebelumnya dan lebih menjadi seorang yang kutu buku lagi terhadap sesuatu yang dia belum ketahui sebelumnya.
Walau dia anak yang pendiam di kelasnya, namun terkadang satu dua celotehan pun muncul dari mulutnya. Dan pada saat itu, dia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi yaitu menjadi seorang penerjemah, walau cita-cita itu adalah keinginan Ibunya, tetapi demi membahagiakannya dia rela untuk berjuang menjadi seorang penerjemah. Disamping itu, dia juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi.
Komentar
Posting Komentar