Sang Pengubah Hidup
“Ciee, cewenya tuh yang beliin
pulsa”. Pesan dari Putri.
Untuk seorang seperti dia, mungkin kata “pacaran” sangat anti untuk dirinya. Dia menganggap hal itu tidak penting, tidak jelas, pokoknya sesuatu mengenai perempuan dia nggak peduli. Dia berpendapat dengan tidak berpacaran, seseorang lebih bisa mengembangkan dirinya. Dia memang tipe orang yang dingin, dingin sekali.
Tapi kini, tidak dapat dipercaya, seorang yang dahulu engga peduli perempuan, dingin, pokoknya anti pacaran, justru dia mempunyai seorang pacar. Dirinya benar-benar berubah 180°. Entah kemana perginya prinsip hidup dia yang dulu. Ku kira dia orang yang anti mainstream, beda sendiri di kelas, tapi nyatanya sama aja kaya yang lain. Dasar cinta, dapat menjungkir balikan seseorang. Yaa itulah si Bedu Kamase, dia memang orang yang... Ah sudahlah.
***
Awal kejadian dimana cinta itu tumbuh dalam diri Bedu ketika ia duduk di kelas X. Semasa dia masih di kelas X, dia masih seperti biasa “anti pacaran”. Benar-benar tipe orang yang dingin, kalo suka sih kayaknya engga, dia hanya mengakui jika ada cewe cantik, iya menganggap wajar hal itu. Karena memang cantik itu karunia Tuhan. hehe.
Hingga dia bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Putri Kalisa yang sekarang menjadi pacarnya. Pertemuan pertama mereka dimulai ketika Putri menemui Bedu di kelasnya untuk memberi tahu informasi mengenai LDKS. Yaa karena memang Bedu waktu itu masih dingin, dia hanya merespon dengan ekspresi cuek-cuek saja, yang tentunya membuat Putri jengkel. Pertemuan pertama mereka sangat tidak menarik.
“du, nih peralatan buat LDKS, catet ya terus besok bawa barang-barangnya.” Sahut Putri. Bedu hanya melihat-lihat kertas itu dan berkata “ohh.. ga tertarik.”
Jum’at 9 Nopember 2012, merupakan pertemuan kedua mereka. Hari itu Bedu sedang berkumpul bersama teman osisnya karena ketika itu Bedu hendak mempresentasikan karyanya dalam sebuah lomba. Saat itu juga ada Putri sedang ikut berkumpul. Tapi Bedu belum mengenal namanya.
“Du, ayuk kita solat jum’at dulu, kalo berangkat jam segini takut gak keburu solat”. Seru salah satu teman yang berada dekat Bedu.
Mendengar ucapan Putri, Bedu langsung menengok ke Putri dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Bedu tidak terlalu dimasukan ke dalam hati, dia mewajarkan sifat bercanda seseorang. Dia memang tidak pandai dalam berekspresi. Tapi Putri yang melihat Bedu tampak seperti orang kesal, membuat Putri merasa bersalah atas ucapannya. Yaa itulah pertemuan kedua mereka. Dan lagi-lagi pertemuan mereka tidak menyenangkan.
Satu hari setelah Bedu lomba dan memenangkan juara ke-3, Putri memberi pesan ke Bedu lewat media sosial yang isinya mengenai ucapan selamat dan juga meminta maaf atas ucapannya kemarin. Tapi dengan dinginnya Bedu menjawab “iya, santai aja”. Dan lagi-lagi pertemuan mereka kurang menarik, meskipun bertemu di media sosial. Tapi setidaknya hal itu membuat Bedu jadi tau kalo perempuan itu bernama Putri Kalisa.
“Tapi, tumben seorang perempuan mau mulai percakapan duluan. Apa dia.. ah sudahlah”. Hal itu nampaknya membuat Bedu mengira kalau Putri suka dengan dirinya.
Pertemuan ketiga, inilah pertemuan dimana Bedu dan Putri mulai tumbuh rasa cinta. Ini terjadi ketika Bedu, Putri dan juga teman-teman OSIS lainnya sedang membuat proposal di sekolah. Tentunya terjadi interaksi diantara mereka berdua, karena memang tidak banyak juga yang ikut serta membuat proposal.
Sepulang dari sekolah, Bedu merasakan dirinya sedang tidak seperti biasa. Dia selalu saja memikirkan Putri.
“Duh, napa gw jadi mikirin Putri mulu yak. Dia cantik juga sih, duuh napa gw jadi gini sih” gumamnya dalam hati.
Tanpa disadari ia menyukai Putri, tapi dia tetep berpendirian teguh terhadap prinsip hidupnya “anti pacaran”. Tetapi tidak sekuat seperti dulu.
“wah ada pesan dari Putri nih, wah dia nyuruh gw ikut lomba lagi”. Didalam pikiran Bedu kegirangan karena Putri memberi pesan.
Mulai saat itu, Bedu dan Putri memulai pdkt. Mereka jadi sering chatting. Dari sering chatting, mulai jadi sering smsan. Sedikit demi sedikit mereka mulai dekat. Bahkan sering terjadi pertemuan diantara mereka. Kebetulan Putri seorang sekretaris, kadang Putri sering membutuhkan Bedu untuk bisa mengerjakan tugasnya sebagai seketaris, yaitu ngeprint. Mungkin karena kebetulan di rumah Bedu memiliki printer. Bedu memanfaatkan hal itu agar bisa bertemu dengan seseorang yang sedang dekat dengannya.
Nampaknya dari hari ke hari mereka jadi makin dekat dan semakin dekat. Tapi tanpa disadari juga dari hari ke hari “anti pacaran” mulai jauh dari diri Bedu.
Akhirnya Bedu mengakui bahwa dirinya mencintai Putri.
***
Tapi nampakya perjalanan cinta mereka tidak semulus apa yang diharapkan. Putri mulai kecewa terhadap kelakuan Bedu. Hal itu terjadi karena Bedu tidak jadi mengikuti lomba yang Putri suruh. Padahal dari awal Bedu nampak meyakinkan Putri kalo dirinya akan mengikuti lomba tersebut.
“yaah maaf komputer gue lagi rusak jadi gue ga bisa ikut, kalo komputer gue ga rusak, gue ikut deh”. Tutur Bedu menyesal dan berusaha mencari alasan meskipun alasannya memang benar bahwa komputer miliknya rusak.
“kan bisa pake komputer perpustakaan? Lagian udah gue bilang ke guru dan udah diizinin juga”. Putri langsung menjawab dan membuat Bedu tidak bisa beralasan lagi.
“maaf, lo kecewa ya?” Bedu semakin menyesal dan Putri tidak menjawab pesannya lagi.
Tidak lama dari kejadian itu, Putri menulis status di media sosialnya “cukup! Kecewa berat.”
Hal itu sungguh membuat hatinya sedih, menyesal dan mulai merasakan kahilangan seseorang yang sangat berharga. Hari-harinya mulai seperti dulu lagi, hape sepi tidak ada sms, dan pikiran tidak seperti ketika dia masih dekat dengan Putri. Bedu menyesal, sangat menyesal.
Ketika akhir tahun 2013, Bedu menyempatan diri untuk sms Putri. Dengan isi sms “seperti ditengah medan perang”. Tapi tak ada balesan dari Putri.
Dua bulan, tiga bulan bahkan berbulan-bulan, bahkan sampai Bedu kelas XII. Bedu menunggu Putri tapi tak kembali juga. Dirinya mulai pasrah, tapi tetap mencintainya. Dia hanya senang setidaknya bisa sekelas dengannya.
***
Hampir setahun sudah Bedu tidak dekat dengannya, meskipun Putri pernah sms, tapi hanya sekedar urusan organisasi, meskipun juga pernah smsan, tapi hanya sebentar.
Oktober 2013, Putri memulai chatting, tapi hanya untuk meminta bantuan Bedu untuk memperbaiki flashdisknya. Komunikasi di antara mereka terjadi lagi. Meskipun hanya untuk membetulkan flashdisknya.
“du, sibuk ga?” Tanya Putri.
Keesokan harinya, Putri pun memberikan flashdisknya kepada Bedu untuk diperbaiki. “nih du, tolong yaaaa.” Sahut Putri. “iya” Bedu menjawab.
Tetapi hasilnya Bedu tidak dapat membetulkan flashdisk milik Putri. Meskipun begitu, Bedu tetap senang dapat kembali chatting dengan Putri.
Karena tidak dapat memperbaiki flashdisk milik Putri, Bedu berniat ingin mengembalikan flashdisknya.
Suatu sore hari, Bedu menghampiri Putri dan berkata “sorry, gue gak bisa benerin flashdisk lo, nih gue balikin.” Sahut Bedu. “Yahh gabisa, yaudah simpen aja deh” Putri menolaknya. “simpen?” Bedu tampak bingung tetapi dia senang. Dia bingung mengapa Putri menyuruh untuk menyimpannya dan senang karena setidaknya memiliki kenangan meskipun hanya sebuah flashdisk rusak.
Komunikasi dengan Putri terus berlanjut hingga Desember. Ketika itu Putri mendapat amanah untuk menyuruh Bedu mengikuti lomba dan Bedu pun langsung menerima hal itu bahkan 2 lomba sekaligus. Obrolan mengenai lomba terus diobrolkan di chatting. Bedu merasa dirinya kembali seperti dulu lagi. Orang yang ia cintai akhirnya kembali dekat.
***
Di akhir komunikasinya, Bedu mendapatkan masalah yang baru lagi, bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Masalahnya adalah teman dekat Bedu, Rohim, ia bercerita bahwa ia sedang menyukai sesorang. “Du, gue lagi suka sama cewe nih.” Sahut Rohim. “cewe broh? Siapa?” Sahut Bedu dengan wajah penasaran. “Putri, lo tau kan?” Ketika Bedu mengetahui namanya, dia kaget sangat kaget. Tapi kagetnya tidak dia tampakkan, dia berusaha memendam rasa sakit yang dia alami dengan senyuman ke Rohim. “oh Putri, tau kok.” Sahut Bedu dengan raut muka yang terpaksa senyum.
Sepulang dari sekolah Bedu terus saja kepikiran apa yang Rohim ucapkan. Bedu takut jika Putri bersamanya, takut jika Putri menyukai Rohim. Semua kiraan aneh muncul di dalam pikirannya. Tapi Bedu tetap yakin dengan dugaannya bahwa Putri menyukai Bedu itu benar. Meskipun dia terlalu kepedean.
“mengapa, mengapa orang sepertiku bisa merasakan rasa yang sakit sekali seperti ini, aku yang dulu anti pacaran tapi mengapa seperti ini setelah mendengar curhatan temanku, ini sulit”. Ucap Bedu didalam pikirannya yang sedang kacau.
Beberapa hari kemudian tidak ada tanda-tanda Putri bersama dengannya. Membuat Bedu cukup lega meskipun itu kebahagiaan teman dekatnya.
***
Belum sampai disana, masalah yang baru dan yang lebih buruk dari kemarin dan yang kemarin lagi muncul. Bedu curiga jika Putri sedang dekat dengan seseorang, yang seseorangnya itu sangat Bedu kenal. Karena dia merupakan teman dekatnya lagi tapi ini berbeda dari yang sebelumnya, orang itu adalah Karim.
Peristiwa itu dimulai ketika sd card kamera yang sedang Bedu pinjam untuk lomba, tertinggal di laptop Putri. Lalu Bedu dan Putri janjian untuk mengambil sd card yang tertinggal dan bersepakat abis magrib mereka bertemu.
“du, sd card lo ketinggalan nih di laptop. Mau diambil ga?” Tanya Putri.
Tapi sepertinya Putri tidak bisa sehabis magrib. Lalu Putri kembali bilang setelah isya.
“du sory masih ada acara, abis isya aja deh.”
“oh iya gpp.”
Tetapi tidak jadi lagi sehabis isya dan terakhir Putri menyuruh Bedu untuk menunggu. Bedu pun menunggu kehadiran Putri di sebuah masjid sekitar jam sembilan malam. Tapi Putri tak kunjung datang hingga lama Bedu menunggunya. Lalu ketika dapet kabar ternyata Putri menyuruh Karim untuk mengambil sd card yang tertinggal di laptop Putri dan membawanya ke Bedu yang sedang berada di sebuah masjid. Mengetahui hal itu Bedu langsung lemas tidak tahu harus melakukan apa, badannya terasa gemeteran.
“Mengapa Putri menyuruh Karim kalau dia bisa menyuruh ku datang kesana? sebenarnya Putri itu siapanya Karim sih”. Gumam Bedu di dalam pikirannya.
Sesampainya di rumah dengan tangan menggemgam sd card dan pikiran menggemgam suatu yang kurang enak. Bedu bergumam kembali “padahal aku dan Putri belum lama bisa chattingan lagi, tapi kenapa sekarang begini”
Putri pun merasa bersalah dan meminta maaf sudah merepotkan banyak orang pada malam itu. Dan Bedu memaafkannya meskipun pada dirinya sedang sangat kacau.
Hari perlombaan pun datang, Bedu diminta oleh Putri untuk menjadi suporter untuk temannya yang lain, karena memang yang lomba tidak hanya Bedu saja, bahkan si Karim pun juga ikut lomba. Dan kebetulan Bedu lomba tinggal mengirim saja tidak perlu dipresentasikan.
“du, besok bisa temenin anak-anak lomba ga? Soalnya yang lain pada gabisa.” Tanya Putri dalam sebuah pesan.
Bedu pun mau menemani temannya yang ingin mengikuti lomba. Dan hal ini menjadi moment yang tak terlupakan olehnya. Karena ketika berangkat ke tempat lomba Bedu pertama kalinya memboncengi Putri bahkan sempat menjemput Putri sebelumnya, seseorang yang sangat dicintainya pun akhirnya dapat diboncengi selama perjalanan menuju tempat lomba. Bedu tidak peduli sama sekali meskipun ada Karim.
Tetapi kesenangan Bedu terhenti sampai disitu saja. Karena begitu sampai di tempat acara perlombaan, Bedu beberapa kali melihat Putri meminjam hape Karim. Hal itu sangat membuat hati Bedu menjadi kacau sehabis sempat senang.
“lagi-lagi Karim, Ada apa sebenarnya dengan mereka, sepertinya Putri memang tidak ditakdirkan untukku” ucap Bedu dalam pikirannya.
Ketika sudah memasuki siang hari. Bedu ingin pulang duluan dari yang lain. Karena memang Bedu disuruh menjemput kakanya yang datang dari Bandung. Tapi sebenarnya dia jemputnya sore, Bedu hanya tidak ingin melihat Putri dan Karim begitu dekat karena sangat membuat Bedu cemburu.
“eh gue pulang duluan yee, gw mau jemput kaka gw nih, mau bareng ga Put?” Bedu menyempatkan diri untuk mengajak Putri.
Setidaknya Bedu pulang dengan rasa senang, karena dapat boncengan lagi bersama Putri. Dan begitu sampai di depan gang rumahnya, ada kata yang Bedu tidak bisa lupakan. Putri mengucapkan “makasih ya du” sahut Putri. Kalimat itu tak bisa dilupakan oleh Bedu.
***
Liburan semester satu pun tiba, Bedu dan keluarganya berlibur ke kampung ibunya. Tapi selama berada disana, Bedu selalu kepikiran mengenai Putri, bahkan dia membawa flashdisk kenangan dari Putri. Selama berada diluar kota, keadaaan pikiran Bedu tidak fit karena Putri.
“kenapa cerita hidupku mesti begini ya, melihat Putri dekat sekali dengan Karim membuat ku tak yakin lagi kalo Putri suka denganku, apa memang dia tidak suka dengan ku, apa cuma aku saja yang kegeeran? Gatau ah gatau” lagi-lagi Bedu bergumam sendiri.
Selama di kampung, Bedu bertekad akan menyatakan cinta ketika ia sudah sampai di Jakarta, karena ia pikir setidaknya ia menceritakan yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Bedu berfikir bahwa tidak ada gunanya jika terus memendam rasa ini.
“aku siap jika pernyataanku tidak mengubah hidup ku, aku pikir dulu Putri suka padaku, aku mengingat semua yang telah kita alami, jika memang dia tidak suka, dia tidak mungkin waktu itu mengucapkan selamat dan meminta maaf, aku akan tetap yakin. Begitu aku sampai disana aku akan menembaknya”
Pagi-pagi Putri pun sms “Congrat ya Du, makan makan \y/, i proud of you”. Sedikit sms dari Putri yang memberitahukan bahwa dirinya memenangkan lomba. Tapi bukan itu yang Bedu perhatikan, ia memerhatikan “i proud of you” dan hal itu merupakan kedua kalinya Putri mengucapkan selamat.
***
Memasuki semester kedua, nampaknya Putri dengan Karim masih dekat juga. Dari hari ke hari tampaknya justru membuat Bedu makin kacau. Dan dari hari ke hari juga harapanya mulai pudar. Bedu akhirnya mengetahui, apa itu galau, seperti apa galau itu, ternyata memang menyakitkan.
Sampai suatu hari di parkiran sekolah, ketika Bedu mencoba untuk memberitahu Putri kalau Bedu juga mengetahui cerita dia dengan Rohim. Mendengar ucapan Bedu tersebut, membuat Putri kaget karena Bedu mengetahui peristiwa itu.Tapi ada sesuatu yang membuat Bedu agak lega, setelah Bedu dan Putri berbicara menganai masalah itu, ternyata Putri memang benar tidak menyukai Rohim dan menyuruh Bedu untuk menyampaikan pesan bahwa Putri menolaknya.
Pertemuan di parkiran kedua, Bedu memberi tahu Putri bahwa dirinya telah menjalankan amanat yang diberikan, dan Bedu menyempatkan diri untuk bertanya mengenai Karim.
“Put, emang sebenarnya yang suka lo apa dia sih?”Tanya Bedu.
Mendengar ucapannya nampaknya membuat Putri bingung atau apalah Bedu tidak dapat menebak isi hatinya.
Hari demi hari mereka mulai sering smsan kembali. Dan hari demi hari harapan yag tadinya pudar kembali memancar. Mereka mulai sering berkomunikasi kembali, entah sms ataupun langsung. Bedu sangat puas bahwa pilihan ia menyatakan cinta tidak sia-sia.
***
Senin, 20 Januari 2014, merupakan salah satu hari yang tidak dapat Bedu lupakan karena pada hari itu Putri meminta Bedu untuk tidak pulang dulu.
Bedu mulai kegeeran kembali dan bergumam “jangan-jangan Putri mau... ah sudahlah tak usah dipikirkan, aku tidak tau, mendingan jangan geer, dari pada ternyata emang bukan yang aku kira”.
Bedu menepati janjinya, ia memang tidak pulang sekolah dan bertemu Putri di kelas. Hanya Bedu dan Putri. Lama Bedu menunggu Putri untuk berbicara mungkin sekitar 15 menit. Putri terlihat tidak seperti biasanya, ia terlihat gugup sekali, bahkan ia menyuruh Bedu untuk pulang karena hanya untuk menutupi kegugupannya. Dan Putri pun akhirnya mengatakan tujuan mengapa menyuruh Bedu disini.
“Du, sebenarnya gue juga suka sama lo” sebuah ucapan dari Putri yang beran-benar membuka harapan seluas-luasnya.
Terjadilah perbincangan diantara mereka berdua. Dan sepertinya Putri menunggu Bedu untuk menembaknya.
Lalu Bedu memikirkan bagaimana cara menembak Putri. Ia sudah tidak memikirkan Rohim maupun Karim, yang jelas dirinya sangat senang ternyata orang yang selama ini dia suka, ternyata juga suka dengannya.
***
Setelah beberapa hari, Bedu bertekad untuk menembaknya dengan kemampuan original yang ia miliki. Mungkin ucapanya terlalu flat, yaa karena memang pengalaman Bedu yang pertama.
Suatu ketika mereka bertemu dan mulai berinteraksi. Bedu sepertinya basa-basi dulu sebelum ia menembak Putri, tampaknya ia masih gugup. Dan ketika ia pikir sudah waktunya Bedu pun mulai berbicara.
“duuh harus ngomong apa aku ini, benar-benar menegangkan, mengapa sampai deg-degan seperti ini mengapa sampe gemeteran begini?”. Ucap Bedu dalam pikirannya yang sedang bekerja maksimal.
Bedu sangat menyesal atas ucapannya, ia menyalahkan dirinya yang sangat tidak berpengalaman dalam hal itu. Dan tiba-tiba terlintas di pikirannya bahwa Putri akan menolaknya. Tapi Bedu belum menyerah.
“ya uda gue janji gabakal jadiin lu objek percobaan” sahut Bedu.
Putri terdiam sesaat, dan mulai menganggukan kepalanya.
Jum’at 24 Oktober 2014, Sebuah anggukan yang sangat berarti. Sebuah anggukan yang merubah hidup Bedu. Sebuah anggukan yang tidak dapat Bedu lupakan. Sebuah anggukan yang sangat mewarnai cerita hidupnya yang sangat rumit.
Dan kini mereka berdua menjalani hubungan dengan suka cita.
“Cewe? Hehe sory ya mbak saya ga
pernah pacaran”. Bedu menjawab dengan bangganya bahwa dia orang yang tidak
pernah pacaran.
Untuk seorang seperti dia, mungkin kata “pacaran” sangat anti untuk dirinya. Dia menganggap hal itu tidak penting, tidak jelas, pokoknya sesuatu mengenai perempuan dia nggak peduli. Dia berpendapat dengan tidak berpacaran, seseorang lebih bisa mengembangkan dirinya. Dia memang tipe orang yang dingin, dingin sekali.
Tapi kini, tidak dapat dipercaya, seorang yang dahulu engga peduli perempuan, dingin, pokoknya anti pacaran, justru dia mempunyai seorang pacar. Dirinya benar-benar berubah 180°. Entah kemana perginya prinsip hidup dia yang dulu. Ku kira dia orang yang anti mainstream, beda sendiri di kelas, tapi nyatanya sama aja kaya yang lain. Dasar cinta, dapat menjungkir balikan seseorang. Yaa itulah si Bedu Kamase, dia memang orang yang... Ah sudahlah.
***
Awal kejadian dimana cinta itu tumbuh dalam diri Bedu ketika ia duduk di kelas X. Semasa dia masih di kelas X, dia masih seperti biasa “anti pacaran”. Benar-benar tipe orang yang dingin, kalo suka sih kayaknya engga, dia hanya mengakui jika ada cewe cantik, iya menganggap wajar hal itu. Karena memang cantik itu karunia Tuhan. hehe.
Hingga dia bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Putri Kalisa yang sekarang menjadi pacarnya. Pertemuan pertama mereka dimulai ketika Putri menemui Bedu di kelasnya untuk memberi tahu informasi mengenai LDKS. Yaa karena memang Bedu waktu itu masih dingin, dia hanya merespon dengan ekspresi cuek-cuek saja, yang tentunya membuat Putri jengkel. Pertemuan pertama mereka sangat tidak menarik.
“du, nih peralatan buat LDKS, catet ya terus besok bawa barang-barangnya.” Sahut Putri. Bedu hanya melihat-lihat kertas itu dan berkata “ohh.. ga tertarik.”
Jum’at 9 Nopember 2012, merupakan pertemuan kedua mereka. Hari itu Bedu sedang berkumpul bersama teman osisnya karena ketika itu Bedu hendak mempresentasikan karyanya dalam sebuah lomba. Saat itu juga ada Putri sedang ikut berkumpul. Tapi Bedu belum mengenal namanya.
“Du, ayuk kita solat jum’at dulu, kalo berangkat jam segini takut gak keburu solat”. Seru salah satu teman yang berada dekat Bedu.
“Emang dia bisa solat?” Tiba-tiba
salah seorang cewe ikut nyeletuk, tidak salah lagi, yaa dia Putri.
Mendengar ucapan Putri, Bedu langsung menengok ke Putri dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Bedu tidak terlalu dimasukan ke dalam hati, dia mewajarkan sifat bercanda seseorang. Dia memang tidak pandai dalam berekspresi. Tapi Putri yang melihat Bedu tampak seperti orang kesal, membuat Putri merasa bersalah atas ucapannya. Yaa itulah pertemuan kedua mereka. Dan lagi-lagi pertemuan mereka tidak menyenangkan.
Satu hari setelah Bedu lomba dan memenangkan juara ke-3, Putri memberi pesan ke Bedu lewat media sosial yang isinya mengenai ucapan selamat dan juga meminta maaf atas ucapannya kemarin. Tapi dengan dinginnya Bedu menjawab “iya, santai aja”. Dan lagi-lagi pertemuan mereka kurang menarik, meskipun bertemu di media sosial. Tapi setidaknya hal itu membuat Bedu jadi tau kalo perempuan itu bernama Putri Kalisa.
“Tapi, tumben seorang perempuan mau mulai percakapan duluan. Apa dia.. ah sudahlah”. Hal itu nampaknya membuat Bedu mengira kalau Putri suka dengan dirinya.
Pertemuan ketiga, inilah pertemuan dimana Bedu dan Putri mulai tumbuh rasa cinta. Ini terjadi ketika Bedu, Putri dan juga teman-teman OSIS lainnya sedang membuat proposal di sekolah. Tentunya terjadi interaksi diantara mereka berdua, karena memang tidak banyak juga yang ikut serta membuat proposal.
Sepulang dari sekolah, Bedu merasakan dirinya sedang tidak seperti biasa. Dia selalu saja memikirkan Putri.
“Duh, napa gw jadi mikirin Putri mulu yak. Dia cantik juga sih, duuh napa gw jadi gini sih” gumamnya dalam hati.
Tanpa disadari ia menyukai Putri, tapi dia tetep berpendirian teguh terhadap prinsip hidupnya “anti pacaran”. Tetapi tidak sekuat seperti dulu.
“wah ada pesan dari Putri nih, wah dia nyuruh gw ikut lomba lagi”. Didalam pikiran Bedu kegirangan karena Putri memberi pesan.
Mulai saat itu, Bedu dan Putri memulai pdkt. Mereka jadi sering chatting. Dari sering chatting, mulai jadi sering smsan. Sedikit demi sedikit mereka mulai dekat. Bahkan sering terjadi pertemuan diantara mereka. Kebetulan Putri seorang sekretaris, kadang Putri sering membutuhkan Bedu untuk bisa mengerjakan tugasnya sebagai seketaris, yaitu ngeprint. Mungkin karena kebetulan di rumah Bedu memiliki printer. Bedu memanfaatkan hal itu agar bisa bertemu dengan seseorang yang sedang dekat dengannya.
Nampaknya dari hari ke hari mereka jadi makin dekat dan semakin dekat. Tapi tanpa disadari juga dari hari ke hari “anti pacaran” mulai jauh dari diri Bedu.
Akhirnya Bedu mengakui bahwa dirinya mencintai Putri.
***
Tapi nampakya perjalanan cinta mereka tidak semulus apa yang diharapkan. Putri mulai kecewa terhadap kelakuan Bedu. Hal itu terjadi karena Bedu tidak jadi mengikuti lomba yang Putri suruh. Padahal dari awal Bedu nampak meyakinkan Putri kalo dirinya akan mengikuti lomba tersebut.
“yaah maaf komputer gue lagi rusak jadi gue ga bisa ikut, kalo komputer gue ga rusak, gue ikut deh”. Tutur Bedu menyesal dan berusaha mencari alasan meskipun alasannya memang benar bahwa komputer miliknya rusak.
“kan bisa pake komputer perpustakaan? Lagian udah gue bilang ke guru dan udah diizinin juga”. Putri langsung menjawab dan membuat Bedu tidak bisa beralasan lagi.
“maaf, lo kecewa ya?” Bedu semakin menyesal dan Putri tidak menjawab pesannya lagi.
Tidak lama dari kejadian itu, Putri menulis status di media sosialnya “cukup! Kecewa berat.”
Hal itu sungguh membuat hatinya sedih, menyesal dan mulai merasakan kahilangan seseorang yang sangat berharga. Hari-harinya mulai seperti dulu lagi, hape sepi tidak ada sms, dan pikiran tidak seperti ketika dia masih dekat dengan Putri. Bedu menyesal, sangat menyesal.
Ketika akhir tahun 2013, Bedu menyempatan diri untuk sms Putri. Dengan isi sms “seperti ditengah medan perang”. Tapi tak ada balesan dari Putri.
Dua bulan, tiga bulan bahkan berbulan-bulan, bahkan sampai Bedu kelas XII. Bedu menunggu Putri tapi tak kembali juga. Dirinya mulai pasrah, tapi tetap mencintainya. Dia hanya senang setidaknya bisa sekelas dengannya.
***
Hampir setahun sudah Bedu tidak dekat dengannya, meskipun Putri pernah sms, tapi hanya sekedar urusan organisasi, meskipun juga pernah smsan, tapi hanya sebentar.
Oktober 2013, Putri memulai chatting, tapi hanya untuk meminta bantuan Bedu untuk memperbaiki flashdisknya. Komunikasi di antara mereka terjadi lagi. Meskipun hanya untuk membetulkan flashdisknya.
“du, sibuk ga?” Tanya Putri.
“engga, kenapa?” balas Bedu.
“boleh minta tolong ga?” Tanya
Putri.
“apaan?” Tanya Bedu.
“Benerin flashdisk gue dong, flashdiknya
ga kebaca, banyak datanya soalnya.” Putri pun meminta tolong.
“yaudah besok bawa aja
flashdisknya.” Seru Bedu.
“ohh, oke sip, thankyou yak.” Sahut
Putri.
“yooo” balas Bedu.
Keesokan harinya, Putri pun memberikan flashdisknya kepada Bedu untuk diperbaiki. “nih du, tolong yaaaa.” Sahut Putri. “iya” Bedu menjawab.
Tetapi hasilnya Bedu tidak dapat membetulkan flashdisk milik Putri. Meskipun begitu, Bedu tetap senang dapat kembali chatting dengan Putri.
Karena tidak dapat memperbaiki flashdisk milik Putri, Bedu berniat ingin mengembalikan flashdisknya.
Suatu sore hari, Bedu menghampiri Putri dan berkata “sorry, gue gak bisa benerin flashdisk lo, nih gue balikin.” Sahut Bedu. “Yahh gabisa, yaudah simpen aja deh” Putri menolaknya. “simpen?” Bedu tampak bingung tetapi dia senang. Dia bingung mengapa Putri menyuruh untuk menyimpannya dan senang karena setidaknya memiliki kenangan meskipun hanya sebuah flashdisk rusak.
Komunikasi dengan Putri terus berlanjut hingga Desember. Ketika itu Putri mendapat amanah untuk menyuruh Bedu mengikuti lomba dan Bedu pun langsung menerima hal itu bahkan 2 lomba sekaligus. Obrolan mengenai lomba terus diobrolkan di chatting. Bedu merasa dirinya kembali seperti dulu lagi. Orang yang ia cintai akhirnya kembali dekat.
***
Di akhir komunikasinya, Bedu mendapatkan masalah yang baru lagi, bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Masalahnya adalah teman dekat Bedu, Rohim, ia bercerita bahwa ia sedang menyukai sesorang. “Du, gue lagi suka sama cewe nih.” Sahut Rohim. “cewe broh? Siapa?” Sahut Bedu dengan wajah penasaran. “Putri, lo tau kan?” Ketika Bedu mengetahui namanya, dia kaget sangat kaget. Tapi kagetnya tidak dia tampakkan, dia berusaha memendam rasa sakit yang dia alami dengan senyuman ke Rohim. “oh Putri, tau kok.” Sahut Bedu dengan raut muka yang terpaksa senyum.
Sepulang dari sekolah Bedu terus saja kepikiran apa yang Rohim ucapkan. Bedu takut jika Putri bersamanya, takut jika Putri menyukai Rohim. Semua kiraan aneh muncul di dalam pikirannya. Tapi Bedu tetap yakin dengan dugaannya bahwa Putri menyukai Bedu itu benar. Meskipun dia terlalu kepedean.
“mengapa, mengapa orang sepertiku bisa merasakan rasa yang sakit sekali seperti ini, aku yang dulu anti pacaran tapi mengapa seperti ini setelah mendengar curhatan temanku, ini sulit”. Ucap Bedu didalam pikirannya yang sedang kacau.
Beberapa hari kemudian tidak ada tanda-tanda Putri bersama dengannya. Membuat Bedu cukup lega meskipun itu kebahagiaan teman dekatnya.
***
Belum sampai disana, masalah yang baru dan yang lebih buruk dari kemarin dan yang kemarin lagi muncul. Bedu curiga jika Putri sedang dekat dengan seseorang, yang seseorangnya itu sangat Bedu kenal. Karena dia merupakan teman dekatnya lagi tapi ini berbeda dari yang sebelumnya, orang itu adalah Karim.
Peristiwa itu dimulai ketika sd card kamera yang sedang Bedu pinjam untuk lomba, tertinggal di laptop Putri. Lalu Bedu dan Putri janjian untuk mengambil sd card yang tertinggal dan bersepakat abis magrib mereka bertemu.
“du, sd card lo ketinggalan nih di laptop. Mau diambil ga?” Tanya Putri.
“oia astaga gue lupa. Lo bisanya
kapan?”
“yaudah abis magrib aja yak”
“sip” Bedu pun menyetujuinya.
Tapi sepertinya Putri tidak bisa sehabis magrib. Lalu Putri kembali bilang setelah isya.
“du sory masih ada acara, abis isya aja deh.”
“oh iya gpp.”
Tetapi tidak jadi lagi sehabis isya dan terakhir Putri menyuruh Bedu untuk menunggu. Bedu pun menunggu kehadiran Putri di sebuah masjid sekitar jam sembilan malam. Tapi Putri tak kunjung datang hingga lama Bedu menunggunya. Lalu ketika dapet kabar ternyata Putri menyuruh Karim untuk mengambil sd card yang tertinggal di laptop Putri dan membawanya ke Bedu yang sedang berada di sebuah masjid. Mengetahui hal itu Bedu langsung lemas tidak tahu harus melakukan apa, badannya terasa gemeteran.
“Mengapa Putri menyuruh Karim kalau dia bisa menyuruh ku datang kesana? sebenarnya Putri itu siapanya Karim sih”. Gumam Bedu di dalam pikirannya.
Sesampainya di rumah dengan tangan menggemgam sd card dan pikiran menggemgam suatu yang kurang enak. Bedu bergumam kembali “padahal aku dan Putri belum lama bisa chattingan lagi, tapi kenapa sekarang begini”
Putri pun merasa bersalah dan meminta maaf sudah merepotkan banyak orang pada malam itu. Dan Bedu memaafkannya meskipun pada dirinya sedang sangat kacau.
Hari perlombaan pun datang, Bedu diminta oleh Putri untuk menjadi suporter untuk temannya yang lain, karena memang yang lomba tidak hanya Bedu saja, bahkan si Karim pun juga ikut lomba. Dan kebetulan Bedu lomba tinggal mengirim saja tidak perlu dipresentasikan.
“du, besok bisa temenin anak-anak lomba ga? Soalnya yang lain pada gabisa.” Tanya Putri dalam sebuah pesan.
“Bisa sih, jam berapa? Lo ikut ga?”
Tanya Bedu.
“jam 8 di sekolah ya, kayaknya engga
deh, soalnya ga ada anak perempuannya.” Putri pun bersedih.
“yah kok gitu? Ikut aja, gue takut
ga ngerti pas udah disana harus ngapain, soalnya gue gatau apa-apa.” Rayu Bedu.
“yaudah deh iya. Tapi lo jemput gue
ya.” Sahut Putri.
“selowwwwww” sahut Bedu.
Bedu pun mau menemani temannya yang ingin mengikuti lomba. Dan hal ini menjadi moment yang tak terlupakan olehnya. Karena ketika berangkat ke tempat lomba Bedu pertama kalinya memboncengi Putri bahkan sempat menjemput Putri sebelumnya, seseorang yang sangat dicintainya pun akhirnya dapat diboncengi selama perjalanan menuju tempat lomba. Bedu tidak peduli sama sekali meskipun ada Karim.
Tetapi kesenangan Bedu terhenti sampai disitu saja. Karena begitu sampai di tempat acara perlombaan, Bedu beberapa kali melihat Putri meminjam hape Karim. Hal itu sangat membuat hati Bedu menjadi kacau sehabis sempat senang.
“lagi-lagi Karim, Ada apa sebenarnya dengan mereka, sepertinya Putri memang tidak ditakdirkan untukku” ucap Bedu dalam pikirannya.
Ketika sudah memasuki siang hari. Bedu ingin pulang duluan dari yang lain. Karena memang Bedu disuruh menjemput kakanya yang datang dari Bandung. Tapi sebenarnya dia jemputnya sore, Bedu hanya tidak ingin melihat Putri dan Karim begitu dekat karena sangat membuat Bedu cemburu.
“eh gue pulang duluan yee, gw mau jemput kaka gw nih, mau bareng ga Put?” Bedu menyempatkan diri untuk mengajak Putri.
“iya tapi anterin sampe rumah yee
jangan di sekolahan” jawab Putri.
“iyaa” jawab Bedu dengan nada bicara
biasa saja padahal senang minta ampun.
Setidaknya Bedu pulang dengan rasa senang, karena dapat boncengan lagi bersama Putri. Dan begitu sampai di depan gang rumahnya, ada kata yang Bedu tidak bisa lupakan. Putri mengucapkan “makasih ya du” sahut Putri. Kalimat itu tak bisa dilupakan oleh Bedu.
***
Liburan semester satu pun tiba, Bedu dan keluarganya berlibur ke kampung ibunya. Tapi selama berada disana, Bedu selalu kepikiran mengenai Putri, bahkan dia membawa flashdisk kenangan dari Putri. Selama berada diluar kota, keadaaan pikiran Bedu tidak fit karena Putri.
“kenapa cerita hidupku mesti begini ya, melihat Putri dekat sekali dengan Karim membuat ku tak yakin lagi kalo Putri suka denganku, apa memang dia tidak suka dengan ku, apa cuma aku saja yang kegeeran? Gatau ah gatau” lagi-lagi Bedu bergumam sendiri.
Selama di kampung, Bedu bertekad akan menyatakan cinta ketika ia sudah sampai di Jakarta, karena ia pikir setidaknya ia menceritakan yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Bedu berfikir bahwa tidak ada gunanya jika terus memendam rasa ini.
“aku siap jika pernyataanku tidak mengubah hidup ku, aku pikir dulu Putri suka padaku, aku mengingat semua yang telah kita alami, jika memang dia tidak suka, dia tidak mungkin waktu itu mengucapkan selamat dan meminta maaf, aku akan tetap yakin. Begitu aku sampai disana aku akan menembaknya”
Pagi-pagi Putri pun sms “Congrat ya Du, makan makan \y/, i proud of you”. Sedikit sms dari Putri yang memberitahukan bahwa dirinya memenangkan lomba. Tapi bukan itu yang Bedu perhatikan, ia memerhatikan “i proud of you” dan hal itu merupakan kedua kalinya Putri mengucapkan selamat.
***
Memasuki semester kedua, nampaknya Putri dengan Karim masih dekat juga. Dari hari ke hari tampaknya justru membuat Bedu makin kacau. Dan dari hari ke hari juga harapanya mulai pudar. Bedu akhirnya mengetahui, apa itu galau, seperti apa galau itu, ternyata memang menyakitkan.
Sampai suatu hari di parkiran sekolah, ketika Bedu mencoba untuk memberitahu Putri kalau Bedu juga mengetahui cerita dia dengan Rohim. Mendengar ucapan Bedu tersebut, membuat Putri kaget karena Bedu mengetahui peristiwa itu.Tapi ada sesuatu yang membuat Bedu agak lega, setelah Bedu dan Putri berbicara menganai masalah itu, ternyata Putri memang benar tidak menyukai Rohim dan menyuruh Bedu untuk menyampaikan pesan bahwa Putri menolaknya.
Pertemuan di parkiran kedua, Bedu memberi tahu Putri bahwa dirinya telah menjalankan amanat yang diberikan, dan Bedu menyempatkan diri untuk bertanya mengenai Karim.
“Put, emang sebenarnya yang suka lo apa dia sih?”Tanya Bedu.
“gataau” jawab Putri dengan ekspresi
wajah mencurigakan. Dan juga jawabannya membuat Bedu mulai pasrah dan makin
pasrah akan sebuah harapan. Dan di saat itu lah Bedu menyatakan cinta, yang
Bedu anggap sudah tidak berarti lagi, akhirnya Bedu memberitahu Putri.
“Put, jangankan Rohim sama Karim,
gue aja juga suka sama lo” ucap Bedu dengan pasrah.
Mendengar ucapannya nampaknya membuat Putri bingung atau apalah Bedu tidak dapat menebak isi hatinya.
“Emang iya?” tanya balik Putri.
“iya, malah dari kelas X gw udah
suka sama lo” Bedu terus mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam. Bedu
keluarkan dan benar-benar iya keluarkan semua hal yang menyangkut Putri. Dan
pada saat itu juga, Bedu ingin langsung menembaknya , ia tak akan menarik
kata-kata ketika ia berada di kampung, ia akan tetap menembaknya. Tapi keadaan
berkata lain, nampaknya Bedu masih belum tau ucapan apa yang harus ia
keluarkan. Dia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
Dan akhirnya ia putuskan untuk menyudahi obrolannya.
Hari demi hari mereka mulai sering smsan kembali. Dan hari demi hari harapan yag tadinya pudar kembali memancar. Mereka mulai sering berkomunikasi kembali, entah sms ataupun langsung. Bedu sangat puas bahwa pilihan ia menyatakan cinta tidak sia-sia.
***
Senin, 20 Januari 2014, merupakan salah satu hari yang tidak dapat Bedu lupakan karena pada hari itu Putri meminta Bedu untuk tidak pulang dulu.
“du, besok jangan pulang dulu ya.
Gue mau ngomong.” Putri mengirimnya sms.
“kenapa put emang?” Tanya Bedu.
“besok aja deh du.” Jawab Putri.
Bedu mulai kegeeran kembali dan bergumam “jangan-jangan Putri mau... ah sudahlah tak usah dipikirkan, aku tidak tau, mendingan jangan geer, dari pada ternyata emang bukan yang aku kira”.
Bedu menepati janjinya, ia memang tidak pulang sekolah dan bertemu Putri di kelas. Hanya Bedu dan Putri. Lama Bedu menunggu Putri untuk berbicara mungkin sekitar 15 menit. Putri terlihat tidak seperti biasanya, ia terlihat gugup sekali, bahkan ia menyuruh Bedu untuk pulang karena hanya untuk menutupi kegugupannya. Dan Putri pun akhirnya mengatakan tujuan mengapa menyuruh Bedu disini.
“Du, sebenarnya gue juga suka sama lo” sebuah ucapan dari Putri yang beran-benar membuka harapan seluas-luasnya.
“Sejak kapan?” Bedu bingung harus berkata apa jadi ia
bertanya seperti itu.
“sejak kelas tujuh” Jawab Putri.
“huh? Kelas tujuh?” tanya Bedu
keheranan.
“iyaa, eh engga maksudnya kelas
sepuluh, duuh” jawab Putri dengan jawaban ngaconya.
Terjadilah perbincangan diantara mereka berdua. Dan sepertinya Putri menunggu Bedu untuk menembaknya.
“ya uda, katanya lo mau ngomong sesuatu”
Tanya Putri.
“sekarang? Duh nanti aja deh di sms”
jawab Bedu masih gugup untuk menembak Putri.
Dan akhirnya pertemuan mereka yang
kali ini menarik. Karena setelah pertemuan itu tampak dari mereka masing-masing
merasa senang.
Lalu Bedu memikirkan bagaimana cara menembak Putri. Ia sudah tidak memikirkan Rohim maupun Karim, yang jelas dirinya sangat senang ternyata orang yang selama ini dia suka, ternyata juga suka dengannya.
***
Setelah beberapa hari, Bedu bertekad untuk menembaknya dengan kemampuan original yang ia miliki. Mungkin ucapanya terlalu flat, yaa karena memang pengalaman Bedu yang pertama.
Suatu ketika mereka bertemu dan mulai berinteraksi. Bedu sepertinya basa-basi dulu sebelum ia menembak Putri, tampaknya ia masih gugup. Dan ketika ia pikir sudah waktunya Bedu pun mulai berbicara.
“duuh harus ngomong apa aku ini, benar-benar menegangkan, mengapa sampai deg-degan seperti ini mengapa sampe gemeteran begini?”. Ucap Bedu dalam pikirannya yang sedang bekerja maksimal.
“Put, kalo gue ngajak lo jadian sama
gue, lo mau nggak?. Sebuah pertanyaan yang sangat tidak menarik tentunya, tanpa
ada pengungkapan rasa sayang satu pun.
“tapi kalo Karim atau Rohim berantem
sama lo gimana?”
“Engga kok, dia juga udah gede kan,
engga mungkin lah, gw juga sebenarnya mau nyoba doang pacaran tuh kaya gimana
sih?” sebuah ucapan yang sangat fatal dari Bedu.
“enak aja, emang gue mainan apa jadi
objek percobaan” jawab Putri dengan nada ga enak.
“yaa bukan gitu, tapi gue juga
serius” Sahut Bedu.
Bedu sangat menyesal atas ucapannya, ia menyalahkan dirinya yang sangat tidak berpengalaman dalam hal itu. Dan tiba-tiba terlintas di pikirannya bahwa Putri akan menolaknya. Tapi Bedu belum menyerah.
“ya uda gue janji gabakal jadiin lu objek percobaan” sahut Bedu.
“beneran engga dijadiin objek?”
Tanya Putri.
“Iyaa, trus gimana meurut lo? Gue
hargai kok meskipun itu jawabannya tidak”.
Putri terdiam sesaat, dan mulai menganggukan kepalanya.
Jum’at 24 Oktober 2014, Sebuah anggukan yang sangat berarti. Sebuah anggukan yang merubah hidup Bedu. Sebuah anggukan yang tidak dapat Bedu lupakan. Sebuah anggukan yang sangat mewarnai cerita hidupnya yang sangat rumit.
Dan kini mereka berdua menjalani hubungan dengan suka cita.
Komentar
Posting Komentar