Kajian Romantisme dalam Film Laila Majnun



KATA PENGANTAR


Puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang kajian romantisme dalam film Laila Majnun.
            Makalah ini telah penulis susun dengan baik dan mendapat bantuan dari berbagai pihak untuk memperlancar pembuatan makalah. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
            Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah ini.
            Akhir kata penulis berharap semoga makalah ilmiah tentang kajian romantisme dalam film Laila Majnun ini dapat memberikan manfaat dan inspirasi terhadap pembaca.

Jakarta, Januari 2017


Film Laila Majnun merupakan sebuah film melayu yang ditayangkan di Tanah Melayu. Laila Majnun merupakan sebuah kisah cinta klasik yang dikisahkan dari tradisi lisan di tanah Arab sejak Dinasti Umayyah berkuasa (661-750 M). Roman ini didasarkan pada kisah nyata tentang seorang pemuda Qays putra Al-Mulawwah, penguasa Bani Amir di Arabia.
Terdapat banyak versi cerita mengenai film Laila Majnun. Namun, dari sekian banyak versi yang dikenal, akhir dari cerita tersebut tetap sama. Qays berubah menjadi gila karena cintanya kepada Laila. Dari hal itu, Qays disebut dengan majnun.
Layla Majnun sangat menginspirasi para penyair Arab, khususnya kaum sufi, karena sosok Layla menjadi simbol yang mempresentasikan sosok Majnun sebagai seorang pencinta. Dalam ajaran para sufi, hubungan pencinta dan kekasih, juga antara hamba dan Tuhan, hanya bisa terjalin melalui cinta. Dari tradisi lisan kisah tersebut kemudian masuk dalam khazanah sastra Persia, dan Nizami menuliskannya pada abad 12 dalam bahasa Persia. Dari situlah timbul ketertarikan untuk menganalisis novel.
Penulis mengangkat karya ini sebagai sebuah laporan karena film Laila Majnun dapat menginspirasi, memberi informasi, dan mengetahui unsur-unsur romantisme dalam seni ini.

1.    Apa itu aliran romantisme?
2.    Bagaimana romantisme dalam film Laila Majnun?
3.    Bagaimana romantisme dalam zaman globalisasi saat ini?
4.    Bagaimana perbandingan romantisme antara film Laila Majnun dan sekarang?


C.    Tujuan Penulisan
1.    Memberikan informasi tentang aliran romantisme.
2.    Memberikan informasi tentang aliran romantisme dalam film Laila Majnun.
3.    Memberikan informasi tentang romantisme dalam zaman globalisasi saat ini.
4.    Memberikan informasi tentang perbandingan romantisme pada film Laila Majnun dan sekarang.


       Romantisme adalah aliran seni rupa yang lebih menampilkan nilai-nilai fantastis, indah, irasional, dan absurd. Umumnya menceritakan kisah-kisah romantis atau dramatis. Adapun romantisme dalam kitab Teori Kritik Sastra Arab, adalah

“Aliran yang mendasarkan ungkapan perasaan sebagai dasar perwujudan. Untuk mengungkapkan hal tersebut, sastrawan slalu berusaha menggambarkan realitas kehidupan dalam bentuk yang seindah-indahnya dan sehalus-halusnya, sehingga terlihat tanpa cela. Tujuan utama aliran ini adalah agar pembaca mampu tersentuh dan terbuai emosinya, sehingga setiap gejolak yang ada atau konflik yang ditonjolkan, biasanya disusun secara dramatis dan setuntas-tuntasnya. Jika kebahagiaan dan keindahan yang disampaikan, kebahagiaan dan keindahan itu tertulis secara sempurna sekali. Untuk itu, aliran ini pun berkecendrungan menggambarkan keindahan alam, bunga, sungai, tumbuhan, gunung, daun, dan bulan. Jika kesedihan yang ditampilkan, sastrawan aliran ini membuat air mata pembaca terkuras.”[1]

Aliran romantisme berasal dari Eropa Barat abad ke-18 pada masa Revolusi Industri. Gerakan ini sebagian merupakan revolusi melawan norma-norma kebangsawanan, sosial dan politik dari periode Pencerahan dan reaksi terhadap rasionalisasi terhadap alam dalam seni dan sastra. Gerakan ini menekankan emosi yang kuat sebagai sumber dari pengalaman estetika, memberikan tekanan baru terhadap emosi-emosi seperti rasa takut, ngeri, dan takjub yang dialami ketika seseorang menghadapi keindahan dari alam. Gerakan ini mengangkat seni rakyat, alam dan kebiasaan, serta menganjurkan batasan-batasan yang didasarkan pada alam, termasuk aktivitas manusia yang dikondisikan oleh alam dalam bentuk bahasa, kebiasaan dan tradisi. Istilah romantik sendiri berasal dari istilah "romans" yaitu ‘narasi heroik prosa atau puitis yang berasal dari sastra abad pertengahan dan romantik’.

Romantisme  merupakan sebuah aliran karya sastra yang mengutamakan degap-degup rasa yang mampu mengukir usaha dalam mengungkapkan perasaan yang dituangkan ke dalam karya. Romantisme dianggap sebagai aliran yang lebih mementingkan penggunaan bahasa yang indah, mampu mengawangkan diri untuk jauh terbang ke alam mimpi. Pengalaman romantisme adalah pengalaman yang hanya terjadi dalam angan-angan, seperti lamunan sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
       Aliran romantisme biasanya dikaitkan dengan masalah cinta karena masalah ini memang membangkitkan gairah dan emosi, tetapi anggapan demikian tidaklah selamanya benar. Sesungguhnya Romantisme pada awalnya muncul dan timbul sebagai reaksi nyata terhadap rasionalisme yang menganggap segala rahasia alam bisa diselidiki dan diterangkan oleh akal manusia. Dengan begitu, aliran Romantisme berusaha mengungkapkan perlawanan. Seperti pada cerita Laila Majnun.
       Perlawanan yang tergambar dalam fim Laila Majnun adalah bahwa Majnun sangat menginginkan Laila untuk menjadi orang yang ia cintai serta dapat memilikinya. Namun, ayah Laila sangat menentang hal itu. Hingga akhirnya Majnun memutuskan untuk tinggal di pegunungan bersama para hewan dan berteman dengannya.
       Romantisme yang tergambar dalam film ini sangatlah kaku akan adat yang berlaku saat itu. Pada saat itu, orang yang berpacaran haruslah segera dinikahkan karena memang gadis dahulu menikah pada usia belia. Pacaran merupakan suatu hal yang tidak wajar pada saat itu. Hingga Laila dan Majnun saling menyukai dalam diam tanpa ada yang mengetahui termasuk orang tua mereka.
       Film Laila Majnun menggambarkan bahwa para orang tua tidak menginkan anaknya berpacaran saat itu. Adat yang kental dan agama yang kuat membuat para orang tua tidak mengenal apa itu pacaran, yang ada hanyalah menikah dan menikah. Oleh sebab itu, Laila dan Majnun dipisahkan oleh orang tuanya karena mereka diketahui berpacaran, yang mana berpacaran merupakan sebuah aib.
       Meskipun dipisahkan, jarak membuat rasa cinta mereka semakin mendalam. Meskipun Laila dinikahkan oleh orang tuanya dengan lelaki lain, dan ayah Majnun yang mencoba mendekatkan Majnun dengan perempuan yang lebih cantik dari Laila, rasa cinta mereka tidak pernah pudar satu sama lain, hati mereka tidak akan pernah tergantikan dengan orang lain.
       Majnun mampu memupuk rasa cintanya kepada Laila dengan membuat puisi-puisi yang ia bacakan dihadapan para rimba. Sedangkan Laila, memupuk rasa cintanya dengan membayangkan bahwa Majnun sedang berbicara dengan dia melalui seekor burung yang sering ia jumpai di taman rumahnya. Seolah batin mereka saling mengikat satu sama lain, hingga mereka sesungguhnya dapat merasakan kebersamaan meskipun berbeda cara pengungkapan.
       Namun, kerinduan yang mendalam pada sang kekasih membuat Laila jatuh sakit dan meninggal dunia. Akan tetapi, cinta yang tidak pernah pudar pada seorang bidadari, Laila membuat Majnun semakin membuktikan cintanya dengan menemani Laila di makamnya sampai ajal menjemputnya.    
       Hal tersebut membuktikan bahwa cinta tidak hanya berada dalam dunia yang fana. Cinta boleh saja terhalang oleh banyaknya rintangan, namun cinta sejati akan slamanya hidup di dalam hati orang-orang yang mempunyai cinta yang suci. Cinta sejati meskipun ditinggal dalam dunia berbeda, akan tetap kekal di dalam keabadiannya.



C.    Romantisme dalam Zaman Globalisasi
Berbeda dari romantisme dalam Film Laila Majnun yang kental dengan adat budaya serta taat agama, di zaman globalisasi yang sudah terkontaminasi dengan budaya barat, romantisme zaman ini sungguh terbalik dengan film Laila Majnun. Remaja sekarang, cenderung bebas berekspresi di dalam sosial media maupun kehidupan nyata.
Smartphone merupakan media yang paling berpengaruh dalam romantisme. Mereka yang sedang jatuh cinta, lebih senang menggunakan smartphone mereka untuk terus bertemu dengan sang pujaan hati. Mengabarkan sang pujaan mengenai aktifitas yang sudah dilakukan hari ini atau sekedar sharing dengan pasangan. Karena hal tersebut dipercaya mampu memperkuat hubungan dengan pasangan.
Bagi pasangan yang tidak suka keluar rumah atau sedang dilanda krisis perekonomian, rumah pun menjadi salah satu tempat untuk mereka bertemu. Menonton, mengobrol, dan bertukar cerita dilakukan oleh pasangan yang senang menghabiskan romantisme di dalam rumah. Bagi mereka yang senang hang out bersama, mereka lebih senang memperlihatkan romantisme di tempat-tempat umum, seperti mall atau cafe.
Selain itu, sosial media juga merupakan media yang berperan menampilkan romantisme pasangan yang sedang jatuh cinta. Mereka suka memperlihatkan aktifitas kegiatan bersama, atau bahkan momen kebersamaan.
Kebebasan yang ditunjukkan dalam romantisme tersebut, membuat remaja zaman sekarang semakin bebas. Adat dan agama tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang mutlak bagi mereka. Bahkan, mereka bebas berpacaran bertahun-tahun tanpa ada rasa malu yang ditunjukkan bagi keluarganya. Terkadang, mereka yang berpacaran bertahun-tahun pun tidak sampai berujung ke jenjang pernikahan.
Berbeda dengan film Laila Majnun, berdekatan dengan orang yang bukan mahramnya pada film ini merupakan suatu larangan yang sangat ketat, mereka tidak diperbolehkan berdekatan sampai nanti mereka dinikahkan. Akan tetapi, zaman globalisiasi ini, berdakatan dengan orang yang bukan mahramnya merupakan suatu hal yang biasa dilakukan oleh banyak kalangan. Mereka tidak malu memperlihatkan kedekatan mereka di depan orang lain.
Terlebih, di zaman globalisasi yang sudah terkontaminasi dengan budaya barat, mereka meniru romatisme yang telah tersebar luas di negara barat, seperti berpelukan. Hal tersebut merupakan suatu hal yang lazim dilakukan oleh remaja masa kini. Perbuatan disebut dilakukan tanpa melihat tempat ataupun kondisi. Perbuatan seperti ini tentu sangat berbeda dengan film Laila Majnun.

       Romantisme yang terbuai dalam film Laila Majnun tentulah berbeda dengan romantisme yang sedang dirasakan oleh remaja zaman sekarang khususnya pada zaman globalisasi. Dalam film Laila Majnun, berdekatan dengan orang yang bukan mahramnya merupakan suatu hal yang mempermalukan. Di zaman globalisasi, hal itu merupakan suatu yang lazim di kalangan remaja.
       Zaman dahulu yang digambarkan dalam film Laila Majnun, mereka tidak dapat mengekspresikan apa yang mereka rasa kepada orang lain secara langsung, mereka hanya bisa diam. Melihat orang yang dicintai dari kejauhan saja sudah merupakan sebuah kebahagiaan bagi mereka. Akan tetapi, remaja sekarang dengan lebih mudah mengekspresikan apa yang mereka rasa ke dalam sosial media atau mengekspresikannya dengan memberikan hadiah spesial seperti bunga dan coklat.
       Zaman dahulu, memegang atau menyentuh orang yang bukan mahramnya merupakan suatu perbuatan yang sangat mempermalukan. Bahkan dianggap sebagai aib keluarga yang harus segera ditutupi, tetapi zaman sekarang sangat berbeda. Hal tersebut merupakan suatu hal yang biasa dan merupakan sebuah kesenangan bagi mereka dan bukan sebuah aib.
       Cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita dapat mencintai orang yang kita sayang dalam doa, meskipun orang tersebut berada di alam berbeda. Di zaman sekarang, jika orang yang kita sayangi telah tiada, maka mereka dengan mudah menggantikan orang lain yang ada di hati mereka sebelumnya atau bahkan disaat mereka masih berada di alam yang sama, mereka dengan mudah berganti-ganti pasangan.   


3.      Penutup
Romantisme merupakan sebuah aliran yang dianggap lebih mementingkan penggunaan bahasa yang indah. Sesungguhnya Romantisme pada awalnya muncul dan timbul sebagai reaksi nyata terhadap rasionalisme yang menganggap segala rahasia alam bisa diselidiki dan diterangkan oleh akal manusia. Dengan begitu, aliran Romantisme berusaha mengungkapkan perlawanan. Seperti dalam film Laila Majnun yang harus mencintai secara diam-diam karena tidak ingin orang tuanya menanggung aib mereka.
Seiring perkembangan zaman, romantisme era sekarang terlihat sangat berbeda dibanding zaman dahulu yang tergambar dalam film Laila Majnun. Dahulu, cinta sesungguhnya abadi di dalam dunia Tuhan. Akan tetapi, era sekarang cinta merupakan sebuah hal yang lumrah di kalangan baik remaja maupun dewasa. Cinta abadi menurut mereka hanyalah ada di dalam film. Meskipun cinta mereka tidak disetujui, mereka lebih memilih menikahi secara diam-diam.

Cinta adalah anugrah terindah dari Tuhan. Tidak seorang pun salah jika jatuh cinta. Cinta tidak bisa dibohongi, cinta akan menjadi sangat rumit jika dilandasi dengan kebohongan. Film Laila Majnun mengajarkan kita untuk tidak jatuh cinta secara diam-diam, karena jika memang cinta lamarlah segera.
Di zaman globalisasi, pergaulan sudah sangatlah bebas. Para orang tua pun sudah hampir tidak bisa mengcontrol anak mereka. Maka selektiflah dalam memilih teman dan perkuat keimanan kita kepada Allah SWT agar tidak mampu tergoda dengan kehidupan dunia yang hanya sementara, serta tidak mampu tergoda untuk menjalin romantisme sebelum pernikahan.
Kita tidak pernah mengetahui dengan siapa kita di masa depan, tetapi jika orang tua kita tidak merestui hubungan yang telah dijalankan, turutilah omongan mereka, karena mereka lebih berpengalam mengenai hal ini terlebih dahulu. Dan mereka tidak akan pernah mau melihat anaknya sengsara dengan memilih pasangan yang salah.
Taatilah agama sebagai pedoman hidup agar tidak terlibat ke dalam dunia kelam seperti remaja sekarang. Lebih baik taaruf dan berpacaran setelah menikah daripada berpacaran sebelum menikah yang akan menimbulkan banyak fitnahan dari orang lain.



SINOPSIS

Layla Majnun berkisah tentang percintaan seorang pemuda yang merupakan satu-satunya putra dari Pimpinan kabilah Bani Amir, Syed Omri. Pemuda yang bernama Qays itu jatuh cinta dengan teman sejawatnya yang sama-sama menuntut ilmu di sekolah yang sama, yaitu Layla. Keduanya saling mencintai sejak pandangan pertama dan mulai menjalin hubungan. Layla dan Qays kini tidak peduli lagi dengan pelajaran. Mereka terlalu sibuk memupuk cinta mereka. Tak disangka, keluarga Layla tidak menyetujui hubungan mereka. Qays yang terlanjur sangat mencintai Layla, jiwanya terguncang seolah tidak bisa menerima kenyataan itu. Qays dan Layla akhirnya dipisahkan oleh orang tua mereka masing-masing. Mereka tidak bisa berjumpa satu sama lain. Menghadapi hal itu, Qays tidak tahan lagi. Ia mulai gelisah setiap harinya. Ketika malam ia berkalang tak tentu arah dengan bibir yang mengumandangkan syair-syair cinta untuk Layla. Masyarakat yang merasa aneh melihat tingkah laku Qays, menganggap Qays jadi gila dan mereka mulai memanggilnya Majnun yang bearti gila. Syed Omri merasa miris melihat keadaan anaknya. Lalu ia meminang Layla untuk Majnun. Namun, apa daya pinangan itu ditolak. Orang tua Layla terlanjur marah dan malu karena tindakan Majnun yang seperti orang gila. Walaupun telah ditolak oleh orang tua Layla, Majnun tetap berkelakuan seperti orang gila, malah bertambah parah. Demikian halnya dengan Layla, ia mengalami goncangan keras pada jiwanya. Meskipun sudah dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tuanya, tak jarang Layla membuat syair-syair cintanya untuk Majnun. Majnun yang semakin hari kegilaannya bertambah parah tidak mau pulang kerumahnya. Berbagai cara dilakukan Syed Omri dan istrinya untuk membujuk Majnun pulang ke rumah, tetapi ia tetap pada pendiriannya. Karena suatu keadaan, Layla pun meninggal dunia. Majnun semakin terkoyak seluruh jiwa dan pikirannya. Ia lalu mendatangi makam Layla dan menunggui di sampingnya. Akhirnya setelah sekian waktu berlalu, Majnun meninggal dunia di samping makam pujaan hatinya, Layla. 


[1] Kamil, Sukron, Teori Kritik Sastra Arab, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009), hlm. 165.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Harapan

Sang Pengubah Hidup

The Prohibition of Cheating